This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 08 November 2011

Mengapa Islam Membenci Syirik 4


Kaidah ke4
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
SYARAH:
Kaidah keempat dan terakhir: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diuitus kepada mereka.
Adapun sebabnya telah jelas, Allah subhanah wa ta’ala mengabarkan bahwa kaum musyrikin terdahulu ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika mengalami kesusahan dan tidak berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, karena mereka tahu tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

Mengapa Islam Membenci Syirik 3


Kaidah ke3
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam muncul pada manusia yang ibadahnya berbeda-beda. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه
 “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah.” (Al Anfal: 39)
SYARAH:
Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada kaum musyrikin, diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah patung, batu-batu, pohon-pohon, dan ada yang menyembah para wali dan orang-orang shalih.
Inilah kejelekan syirik dimana pelakunya tidak berkumpul pada sesuatu yang satu. Berbeda dengan muwahhidin (orang yang bertauhid), sesungguhnya sesembahan mereka itu satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala:
“Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah selein Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (Yusuf: 39-40)
Dan diantara kejelekan syirik serta kebathilannya adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadahnya. Mereka tidak bersepakat dalam satu ketentuan/ patokan, karena tdak berjelan di atas suatu pokok, melaikan berjalan di atas hawa nafsu dan pengakuan-pengakuan yang sesat, sehingga bertambah banyaklah perpecahan mereka.
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Az Zumar: 29)
Orang yang beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla saja seperti seorang budak yang menghamba kepada satu orang dan bersenang-senang dengannya. Dia mengetahui maksudnya dan mengetahu permintaannya sehingga dapat bersenang-senang dengannya. Akan tetapi orang musyrik seperti orang yang mempunyai beberapa tuan, dia tidak tau siapa yang ridha di antara mereka. Setiap tuan mempunyai kesukaan, permintaan, keinginan, dan masing-masing menginginkan dia datang disisinya. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ, maknanya yaitu dimiliki oleh beberapa orang. Dia tidak tau mana yang ridho di antara mereka.
وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ  maknanya dikuasai (dimiliki) oleh satu orang saja, dan ia bersenang-senang bersamanya.
Demikianlah permisalan yang dibuat Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang musyrik dan muwahhidin.
Orang-orang musyrik itu berbeda-beda dalam ibadahnya, dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Beliau memerangi penyembah berhala, orang-orang Yahudi, Nashara, Majusi serta seluruh kaum musyrikin. Beliau juga memerangi orang-orang yang menyembah malaikat, menyembah para wali dan orang-orang shalih, tanpa membedakan mereka.
Ini adalah bantahan bagi orang yang mengatakan: “Orang yang menyembah patung tidak sama dengan mereka yang menyembah orang shalih atau seorang malaikat dari para malaikat, karena mereka menyembah batu-batu, pohon dan benda mati. Maka mereka yang menyembah orang shalih dan wali dari kalangan wali-wali Allah ‘azza wa jalla tidaklah sama dengan orang yang menyembah berhala.”
Dengan ucapan tersebut, mereka menginginkan bahwa orang yang menyembah kuburan saat ini, hukumnya adalah berbeda dengan orang yang menyembah berhala. Mereka tidak dikafirkan, dan perbuatan mereka tidak dianggap sebagai kesyirikan, sehingga tidak boleh diperangi.
Kami katakan: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak membedakan mereka, bahkan menganggap mereka seluruhnya musyrik, sehingga halal darah serta harta mereka. Tidak berbeda antara mereka dan orang yang menyembah Al Masih (Isa ‘alaihis salam)-dan Al Masih adalah seorang Rasul Allah ‘azza wa jalla- Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka. Demikian pula orang-orang Yahudi, mereka menyembah Uzair –salah seorang nabi atau orang shalih di kalangan mereka- Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerangi tanpa membeda-bedakan mereka. Maka, syirik itu tidak berbeda antara penyembah orang shalih, dan penyembah berhala, batu-batu atau pohon-pohom, karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah ‘azza wa jalla apapun bentuknya. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36)
Kata (شَيْئاً) “sesuatupun” dalam konteks larangan mencakup segala sesuatu, yakni seluruh yang disekutukan bersama Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan malaikat, rasul, orang-orang shalih, para wali, batu-batu maupun pepohonan.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al Anfal: 39)
SYARAH:
Merupakan dalil atas diperanginya kaum musyrikin tanpa membedakan sembahan mereka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَقَاتِلُوهُمْ  “Dan perangilah mereka” ini adalah umum untuk setiap orang musyrik, tanpa kecuali!
Kemudian Allah menyatakan: حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ   “Supaya jangan ada fitnah”, fitnah disini adalah syirik, yaitu: (agar) tidak ada kesyirikan. Maka ini umum untuk seluruh kesyirikan apapun bentuknya, sama saja kesyirikan dengan wali-wali dan orang shalih, dengan batu-batu, pohon, matahari atau bulan.
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه   “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” yakni menjadilah agama itu seluruhnya untuk Allah ‘azza wa jalla, tidak ada sekutu bagi-Nya seorangpun siapa saja dia. Maka tidak ada perbedaan antara syirik dengan para wali dan orang-orang shalih, atau syirik dengan batu-batu, pohon, setan-setan dan selain mereka.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Adapun dalilnya matahari dan bulan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan.” (Fushilat: 37)
SYARAH:
(Ini) menunjukkan bahwa (di antara mereka) ada yang sujud kepada matahari dan bulan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit dan terbenamnya dalam rangka menutup jalan (kesyirikan, ed) ke arah tersebut. Karena ada orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan terbenamnya, maka kita dilarang shalat pada dua waktu itu. Meskipun shalat tersebut untuk Allah subhanahu wa ta’ala, namun karena shalat pada waktu itu menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, (maka kita) dilarang darinya dalam rangka menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam datang dengan larangan terhadap kesyirikan serta menutup jalan yang menghantarkan kesana.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya malaikat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً
“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)
SYARAH:
Menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi, dan sesungguhnya hal itu adalah termasuk syirik.
Para penyembah kubur pada hari ini menyatakan: Bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi serta orang-orang yang shalih tidaklah kafir.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Al Maidah: 116)
SYARAH:
Ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada para nabi adalah syirik sebagaimana ibadah kepada berhala.
Di dalamnya terdapat bantahan atas orang yang membedakan hal itu, dari kalangan penyembah kuburan.
Juga bantahan bagi mereka yang menyatakan: Bahwa syirik itu adalah menyembah berhala (saja). Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka mengingkari persamaan diantara mereka, dan menyengka bahwa syirik itu terbatas pada penyembahan kepada berhala saja. Maka ini termasuk kesalahan yang nyata dari dua sisi:
Sisi pertama: Bahwa Allah ‘azza wa jalla mengingkari semuanya dalam Al Qur’an, dan memerintahkan untuk memerangi mereka seluruhnya.
Sisi kedua: Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah malaikat atau orang shalih.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya orang-orang shalih adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra’: 57)
SYARAH:
Merupakan dalil bahwa ada orang yang beribadah kepada orang shalih dari kalangan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”
Dikatakan: ayat ini turun kepada orang yang menyembah Al Masih ‘alaihissalam dan ibunya, serta Uzair. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Al Masih ‘alaihissalam dan ibunya yaitu Maryam, serta Uzair –mereka semua- adalah hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla. Mereka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memerlukan-Nya, berdo’a kepada-Nya serta mencari wasilah kepada-Nya dengan ketaatan.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   “mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”, yaitu kedekatan terhadap Allah ‘azza wa jalla dengan taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian (Allah ‘azza wa jalla) menunjukkan bahwa –mereka itu- tidaklah pantas untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang sangat butuh dan kekurangan, mereka berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan adzab-Nya. Barangsiapa demikian keadaannya, maka tidaklah pantas untuk diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Pendapat yang kedua: ayat ini turun terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekelompok jin. Lalu (sekelompok) jin tersebut masuk Islam sementara orang-orang yang menyembahnya tidak mengetahui keislaman mereka. Mereka (sekelompok jin tadi, ed) mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan dan ketundukan, berharap akan rahmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang membutuhkan dan fuqara’, sehingga tidak pantas untuk diibadahi.
Dan apapun yang dimaksukan dari ayat yang mulia ini, sesungguhnya ayat itu menunjukkan bahwa tidak boleh beribadah kepada orang-orang shalih, sama saja apakah mereka para Nabi dan shidiqin, atau para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka, karena semuanya adalah hamba Allah yang butuh kepada-Nya, maka bagaimana mereka itu diibadahi bersama Allah?
Wasilah artinya taat dan dekat. Menurut bahasa, wasilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada yang dimaksud (dituju). Maka sesuatu yang menyampaikan (kita) kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, adalah wasilah kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang disyariatkan, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah: 35)
Adapun muharrifun (orang-orang yang menyelewengkan makna) menyatakan: Wasilah adalah engkau menjadikan (sesuatu sebagai) perantara antara kamu dan Allah dari kalangan wali-wali, orang shalih dan orang-orang yang sudah meninggal. Engkau menjadikan mereka sebagai perantara antara kamu dengan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendekatkan dirimu kepada-Nya:
“Kami tidak meyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Maka pengertian wasilah menurut muharrifun: Engkau menjadikan sesuatu sebagai perantara antara kamu dengan Allah (untuk) mengenalkanmu kepada Allah menyampaikan keperluanmu kepada-Nya, seakan-akan Allah itu tidak tahu, atau seakan-akan Allah itu bakhil, tidak akan memberi kecuali setelah didesak oleh seorang perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Mereka menyamakan Allah dengan manusia. Kemudian mereka berkata, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (Al Isra’: 57)
(Ini) menunjukkan bahwa, menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah perkara yang disyariatkan, karena Allah subhanahu wa ta’ala memuji pelakunya. Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk mengambil wasilah kepada-Nya, dan pengertian wasilah adalah perantara.” Demikianlah, mereka menyelewengkan kalimat dari tempatnya.
Sedangkan wasilah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan ketaatan yang mnedekatkan kepada Allah, yakni bertawassul (mengambil Wasilah) kepada_nya dengan nama-nama-Nya dan Sfat-sifat-Nya. Inilah wasilah yang disyariatkan. Adapun tawassul dengan mahluk kepada Allah, maka hal ini adalah wasilah yang dilarang dan syirik, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu.
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari pada Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Dari sini, maka kesyirikan orang-orang terdahulu dan yang terakhir –sama saja- meskipun mereka menamakannya wasilah, tetap saja dia syirik yang sebenarnya, dan itu bukan wasilah yang disyariatkan oleh Allah, karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai wasilah kepada-Nya –selamanya-. Dan bahwa syirik itu justru akan menjauhkan (diri kita) dari Allah.
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)
Maka bagaimana syirik itu dijadikan sebagai wasilah kepada Allah, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Syahid (Penguat) dari ayat ini adalah, ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada orang musyrik yang beribadah kepada orang shalih, karena Allah menerangkan hal itu, dan menerangkan bahwa yang mereka sembah adalah hamba yang faqir.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   yaitu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan.
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ   yaitu berlomba-lomba dengan ibadah kepada Allah karena butuhnya mereka kepada Allah dan keperluan mereka.
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ  “Dan menharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” Maka barangsiapa keadaannya demikian, tidak pantas untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalil tentang batu-batu dan pohon-pohon adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
 “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
SYARAH:
Ayat ini merupakan dalil bahwa ada orang-orang musyrik yang beribadah kepada batu-batu dan pohon-pohon.
Firman Allah: أَفَرَأَيْتُمُ “Maka apakah patut” ini adalah pertanyaan pengingkaran, yaitu: kabarkan kepada-Ku; merupakan pertanyaan pengingkaran dan celaan.
اللَّاتَ dengan mentahfif ta’: adalah nama berhala di daerah Thaif, yaitu sebuah batu besar yang diukir, di atasnya dibangun rumah dan padanya ada sitar menyerupai ka’bah. Di sekelilingnya terdapat lapangan, dan di sisinya ada penjaga (juru kunci). Mereka beribadah kepadanya selain Allah. Berhala ini milik kaum Tsaqif dan qabilah-qabilah yang loyal kepada mereka, dan bangga dengannya.
Dan dibaca  dengan mentasdid ta’, adalah ismul fa’il dari  dia adalah seorang laki-laki shalih yag dulunya mengadoni tepung dan memberi makan orang-orang yang haji. Tatkala dia meninggal, mereka membangun rumah diatas kuburnya, kemudian menutupnya dengan sitar (kelambu). Lalu mereka beribadah kepadanya, dialah Laata.
وَالْعُزَّى Al Uzza adalah pohon dari As Salam di lembah Nahlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya terdapat bangunan dan kelambu, dan di sisinya ada juru kunci. Di situ ada setan yang berbicara dengan manusia, sehingga orang-orang yang bodoh menyangka bahwa yang mengajak bicara mereka adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun di sana. Padahal yang berbicara dengan mereka adalah setan-setan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Berhala ini milik kaum Quraisy dan penduduk Makkah serta orang-orang di sekitarnya.
وَمَنَاةَ Mannah adalah sebuah batu besar yang terletak di dekat gunung Qudid antara Makkah dan Madinah. Berhala ini milik suku Khuza’ah, Aus dan Khazraj. Mereka berihram di sisinya ketika haji, dan mengibadahinya.
Tiga berhala ini merupakan berhala terbesar bangsa Arab.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَنَاةَ أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
Apakah berhala tersebut mencukupi kalian? Apakah memberi manfaat kepada kalian? Apakah menolong kalian? Apakah berhala itu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan? Apa yang kalian peroleh darinya? Ini termasuk bab pengingkaran dan peringatan bagi akal untuk kembali kepada petunjuk-Nya. Dia hanyalah batu besar dan pohon yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya.
Maka tatkala Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan Islam dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berhasil menguasai Makkah yang dimuliakan, Beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu dan Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu’anhu menuju Al Laata di Thaif, kemudian mereka menghancurkannya atas perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu ke Al Uzza, lalu dia menghancurkannya, menebang pohon-pohon serta membunuh jin perempuan yang ada disitu yang berbicara dengan manusia dan menyesatkan mereka. Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu menghilangkannya hingga tak tersisa –Alhamdulillah-. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ke Manat, lalu dia menghancurkan dan menghilangkannya. Berhala itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka bagaimana dia dapat menyelamatkan keluarga dan penyembahnya???
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
Kemana dia pergi? Apakah dia memberi manfaat kepada kalian? Apakah dirinya bisa menghalangi tentara Allah ‘azza wa jalla dan pasukan muwahhidin (ahli tauhid)?
Maka ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, bahkan ketiga berhala tersebut adalah berhala terbesar mereka. Bersamaan dengan ini Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan wujudnya, sementara dia tidak dapat menghindar darinya dan tidak pula memberi manfaat kepada keluarga (pengikutnya). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyerang dan memerangi mereka, namun berhala-berhala itu tidak dapat menghalanginya.
Maka Syaikh rahimahullah berdalil dengan ayat ini bahwa di sana ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon. Subhanallah! Manusia yang berakal menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak bernyawa, tidak memiliki akal, gerakan serta kehidupan, lalu dimana akalnya manusia? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan –uluwwan kabira-.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
Dan haditsnya Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dia berkata:
“Kami keluar bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ke Hunain dan saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam-pent). Orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka beri’tikaf di sana serta menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dinamakan Dzatu Anwaath, lalu kami melewati sebuah pohon, kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwaath ...al hadits.
SYARAH:
Dari Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dan yang masyhur beliau termasuk sahabat yang masuk Islam pada waktu fathul Makkah tahun ke delapan Hijrah.
 Al Anwath adalah bentuk jamak dari nauth  gantungan, yakni tempat gantungan dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mencari berkah dengannya. Lalu berkata sebagian sahabat yang baru masuk Islam dan belum mengetahui tauhid secara sempurna “Buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu An Waath.” Ini adalah termasuk jeleknya taqlid dan tasyabbuh (meniru-niru), dan sebesar-besarnya kejelekan. Maka ketika itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam takjub (heran) dan mengucapkan:
 Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Jika ada sesuatu yang menakjubkan atau mengingkari sesuatu, beliau shallallahu’alaihi wa sallam bertakbir atau mengucapkan: Subhanallah dan mengulang-ulangnya.
 yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia dimana sebagian mengikuti sebagian lainnya. Maka sebab yang membawa kalian atas perbuatan ini adalah mengikuti jalannya orang-orang terdahulu dan meniru kaum musyrikin.
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya kalian telah menyatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa “buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Musa menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.”
Tatkala Musa ‘alaihissalam melewati lautan bersama Bani Israil dan Allah menenggelamkan musuh mereka ke dalam lautan sementara mereka menyaksikannya, mereka melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf pada berhalanya. Lalu mereka berkata kepada Musa ‘alaihissalam, “Buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, maka Musa ‘alaihissalam menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.” Musa ‘alaihissalam mengingkari mereka seraya berkata: إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ  “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya”, yaitu bathil.
وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ  “Dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan”, karena syirik.
قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ  “Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” Musa ‘alaihissalam mengingkari mereka sebagaimana nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam mengingkari mereka (para shahabat beliau –pent). Tetapi mereka (Bani Israil) dan para sahabat belum mengerjakannya. Seandainya ketika itu (benar-benar) membuat Dzatu Anwaath, sungguh mereka telah berbuat syirik, namun Allah menjaga mereka, sehingga tatkala nabi mereka melarangnya mereka berhenti, dan mengatakan bahwa perkataan ini (bersumber) dari kebodohan dan bukanlah mereka mengucapkannya karena kesengajaan. Ketika mereka tahu bahwa hal itu adalah syirik, maka mereka berhenti dan tidak melakukannya. Seandainya mereka laksanakan, niscaya mereka telah berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka syahid (penguat) dari ayat ini adalah, bahwa di sana ada yang beribadah kepada pohon-pohon, karena orang-orang musyrik mengambil Dzata Anwaath. Para sahabat yang ilmu belum mantap dihati-hati mereka mencoba untuk meniru kaum musyrikin andai saja Allah tidak menjaga mereka dengan Rasul-Nya.
As Syahid: Bahwa disana ada yang mencari berkah kepada pohon-pohon dan beri’tikaf pada-nya. Dan i’tikaf artinya tinggal di sisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya, maka i’tikaf adalah tinggal pada suatu tempat.
Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang besar:
Masalah pertama: Bahayanya jahil (tidak mengetahui) tauhid. Barangsiapa tidak mengetahui tauhid, pantas baginya jatuh pada kesyirikan, sementara dia tidak mengetahuinya. Maka wajib mempelajari tauhid dan apa yang bertentangan dengannya dari (perbuatan-perbuatan) syirik, sampai manusia itu berada di atas bashirah (ilmu) sehingga tidak datang dari kebodohannya. Apalagi jika dia tidak melihat seseorang mengerjakan kesyirikan tersebut kemudian dia menyangkanya benar dengan sebab kebodohannya. Maka terkandung di dalamnya; bahaya kebodohan, lebih-lebih dalam masalah aqidah.
Masalah kedua: Hadits ini (menunjukkan) bahayanya meniru orang-orang musyrik, karena kadang hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
Maka tidak boleh meniru-niru kaum musyrikin.
Masalah ketiga: Bahwa bertabarruk (meminta berkah) kepada batu-batu dan pohon-pohon serta bangunan adalah syirik, meskipun dinamakan dengan selain namanya. Karena hal itu berarti mencari berkah kepada selain Allah dari batu-batu, pohon-pohon, dan kuburan. Ini adalah syirik meskipun dinamakan dengan nama selain syirik.

Mengapa Islam Membenci Syirik 2


Kaidah Ke2
Berkata syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
“Kaidah yang kedua : Bahwasanya mereka menyatakan : “Tidaklah kami berdo’a kepada mereka serta menghadap mereka kecuali untuk mencari qurbah (kedekatan) dan syafa’at. Dalilnya qurbah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“dan orang-orang yang mengambil pelindung selain allah (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 3)
SYARAH :
Kaidah yang kedua : Sesungguhnya orang-orang musyrik, mereka dinamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kaum musyrikin, dan Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi mereka kekal dineraka –mereka- tidak berbuat syirik dalam rububiyyah tetapi berbuat syirik dalam uluhiyyah. Mereka tidak menyatakan bahwa Tuhan-tuhan memberi rezeki bersama Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan manfaat atau bahaya, dan mengatur (alam semesta ini-pent) bersama Allah subhanahu wa ta’ala, hanya saja mereka menjadikan tuhan-tuhan tersebut sebagai pembei syafaat, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentang mereka :
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami disisi Allah” (Yunus : 18)
apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan; Mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan mereka tidak dapat medatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi kemanfaatan. Tetapi mereka menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai pemberi syafa’at, yaitu perantara disisi Allah subhanahu wa ta’ala dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka menyembelih dan bernadzar untuk tuhan-tuhan tersebut. Bukan karena meyakininya sebagai pencipta atau pemberi rezki, mendatangkan kemanfaatan atau kemudharatan, namun menjadikan (sesembahan) itu sebagai perantara bagi mereka disisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan memberi syafa’at disisi Allah subhanahu wa ta’ala, inilah aqidah orang-orang musyrik.
Dan ketika engkau membantah kuburiyyun (penyembah kubur) saat ini, niscaya mereka akan menyatakan ucapan yang sama. Dia akan berkata “Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat, tetapi aku mengininkan darinya syafa’at bagiku di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Syafaat itu ada yang haq dan ada yang bathil. Syafaat yang haq dan benar, jika memenuhi dua syarat :
Syarat pertama : Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala
Syarat kedua : Yang diberi syafaat adalah ahlu tauhid, yaitu orang yang bermaksiat dari kalangan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid).
Jika salah satu dari dua persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka syafa’atnya adalah bathil, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya” (Baqarah : 255)
“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (Al Anbiyaa’ : 28)
Mereka adalah muwahhidin yang berbuat maksiat. Adapun orang-orang kafir dan musyrikin, maka tidak akan bermanfaat syafaatnya orang yang memberi syafaat.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya” (Al Mu’min : 18)
Mereka itu mendengar syafaat namun tidak mengetahui artinya dan meminta dari sesembahannya tanpa izin dari Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan meminta syafaat untuk orang yang melakukan syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka tidak akan berguna syafaat orang yang memberi syafaat, karena mereka tidak mengetahui makna syafaat yang haq dan yang bathil.
Oleh karena itu berkata Syaikh rahimahullah : “Dan dalil syafaat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Allah” (Yunus : 18)
Syafa’at itu ada dua, yakni syafaat manfiyyah dan syafaat mutsbitah.
Syafaat manfiyyah adalah syafaat yang diminta dari selain Allah subhanahu wa ta’ala dalam perkara yang tidak mampu atasnya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla :
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Allah) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al Baqarah : 254)
Sedangkan syafaat mutsbitah adalah syafaat yang diminta dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat, sementara yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala baik ucapan maupun amalannya setelah (mendapat) izin, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Allah tanpa seizin-Nya” (Al Baqarah : 255)
SYARAH :
Syafaat itu itu mempunyai syarat dan ketentuan yang tidak mutlak. Syafaat ada dua :
(Pertama) Syafaat yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu syafaat yang tidak mendapat izin dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka tidak seorangpun dapat memberi syafaat disisi Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan izinNya. Bahkan seutama-utama mahluk serta penutup para Nabi yaitu Muhammad shallahu’alaihi wa sallam ketika akan mmberi syafaat kepada ahlu mauqif pada hari kiamat, beliau sujud didepan Rabbnya berdo’a dan memujiNya, dan terus sujud hingga dinyatakan kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam “Angkat kepalamu, dan katakan (niscaya) akan didengar, berilah syafaat niscaya akan disyafaati” maka tidak ada pemberi syafaat kecuali dengan izinNya.
(Kedua) Syafaat mutsbitah, yaitu syafaat bagi ahlu tauhid. Maka tidak akan bermanfaat syafaat bagi orang-orang musyrik seperti mereka yang mempersembahkan sesajian untuk kuburan dan berdadzar untuk kuburan.
Ringkas kata : Syafaat menfiyyah adalah syafaat yang diminta tanpa izin dari Allah subhanahu wa ta’ala, atau diminta untuk orang musyrik. Dan syafaat mutsbitah adalah syafaat setelah (mendapat) izin dari Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk ahli tauhid.

Mengapa Islam Membenci Syirik 1


Kaidah Yang Pertama

Berkata Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
“Kaidah yang pertama : ketahuilah! Bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam –mereka itu- mengekui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta dan pengatur, namun hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Allah” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (Yunus : 31)

SYARAH :
Kaidah yang pertama : Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam –mereka itu- mengekui tauhid rububiyyah, sementara pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyyah tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam, sehingga tidak haram harta-harta serta darah mereka.

Ini menunjukkan bahwa tauhid itu bukan Rubiyyah saja, dan syirik itu tidak hanya kesyirikan dalam Rububiyyah. Akan tetapi tidaklah seseorang berbuat syirik dalam Rububiyyah meleinkan –dia itu- adalah mahluk yang ganjil atau nyeleneh. Bagaimana tidak, karena setiap ummat mengekui tauhid Rububiyyah ini.

Tauhid Rububiyyah adalah

Empat Kaidah Penting Tentang Aqidah

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.
Amma ba’du;
Ini adalah syarah Qawaidul Arba’ yang dikarang oleh syaikul Islam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Karena aku melihat tidak ada orang yang mensyarahnya, maka aku ingin mensyarahnya sesuai dengan kekuatan dan kemampuanku. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kekuranganku didalamnya.
Berkata mu’allif (pengarang) rahimahullah :
Bismillahirrahmaanirrahim,
Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabbnya ‘arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.
Ketahuilah! Semoga Allah menunjukimu untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya Hanifiyyah millah Ibrohim adalah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengikhlaskan agama pada-Nya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (Adz Dzariyat : 56)
Maka jika kamu sudah mengetahui bahwa allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah (bersuci). Jika syirik masuk kedalam ibadah, maka rusaklah sebagaimana hadats apabila masuk kedalam thaharah.
Jika kamu telah tahu bahwa syirik apabila bercampur dengan ibadah, maka ia akan merusaknya dan akan menghapus amalan, serta menjadikan pelakunya termasuk orang yang kekal di neraka. Ketahuilah! Bahwa yang paling penting atasmu adalah mengetahui hal tersebut. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melepaskanmu dari perangkap ini, yaitu syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentangnya:
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an Nisaa’ : 48)
SYARAH:
Qawaidul arba’ yang dikarang oleh Syaikul Islam Muhammad bin Abdul wahhab rahimahullah ini adalah risalah yang tersendiri, akan tetapi dicetak bersama “Tsalasatul Ushul” karena kebutuhan risalah tersebut agar berada di tangan-tangan penuntut ilmu.
Qawaid adalah bentuk jamak dari Qaidah. Sedangkan qaidah adalah pokok yang mempunyai cabang atau masalah yang banyak.
Kandungan empat kaidah yang disebutkan oleh Asy syaikh rahimahullah ini adalah mengenal tauhid dan syirik.
Apa kaidah didalam tauhid? Dan apa kaidah didalam syirik? Karena mayoritas manusia rusak dalam dua perkara ini, rusak dalam makna tauhid, apa itu (tauhid)? Dan mereka rusak dalammakna syirik, semua (orang) menafsirka keduanya sesuai dengan hawa nafsunya masing-masing.
Akan tetapi, yang wajib bagi kita adalah mengembalikan kaidah tersebut kepada al qur’an dan sunnah, agar kaidah ini menjadi kaidah yang benar dan selamat yang diambil dari kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, terutama dalam dua perkara besar ini, yakni tauhid dan syirik.
Syaikh rahimahullah tidak menyebutkan kaidah ini dari diri atau pikirannya sendiri, sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh mayoritas orang-orang yang rusak, tetapi kaidah ini diambil dari Kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta sejarah beliau shallallahu’alaihi wa sallam.
Jika kamu telah mengetahui kaidah ini dan memahaminya, maka akan mudah bagimu setelah itu mengenal tauhid yang Allah subhanahu wa ta’ala mengutus dengannya para Rasul-Nya dan menurunkan dengannya kitab0kitab-Nya, serta mengenal syirik yang allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan darinya, juga menjelaskan bahaya dan kerugiannya didunia dan akherat. Ini adalah perkara yang sangat penting dan itu lebih wajib atasmu daripada mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, dan ibadah-ibadah serta seluruh perkara duawiyah, karena hal ini adalah perkara yang paling utama dan mendasar. Sedangkan shalat, zakat, haji dan selainnya –dari perkara ibadah- tidaklah sah jika tidak dibangun diatas pondasi aqidah yang benar yaitu tauhid yang murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sungguh Syaikh rahimahullah telah memberikan muqaddimah untuk Qawaidul ‘arba’ah ini dengan mukaddimah yang agung yang didalamnya terdapat do’a bagi pencari ilmu dan peringatan atas apa-apa yang akan mereka ucapkan. Ketika beliau rahimahullah berkata “Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabbnya ‘arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.”. ini adalah mukaddimah yang agung. Padanya ada do’a dari Syaikh rahimahullah bagi setiappencari ilmu yang mempelajari aqidahnya dan menginginkan –dari hal tersebut- kebenaran, serta menjauhi kesesatan dan kesyirikan. Sesungguhnya dia pantas untuk mendapat pelindunga Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan akherat.
Jika Allah subhanahu wa ta’ala melindunginya didunia dan akherat maka tidak ada jalan bagi kejelekan untuk sampai kepadanya, tidak pada agamanya dan tidakpula pada dunianya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syaitan.” (Al Baqarah : 257)
Apabila allah subhanahu wa ta’ala melindungimu, (maka Dia) akan mengeluarkanmu dari kegelapan, yakni kegelapan syirik dan kkufuran, keragu-raguan, serta penyimpangan menuju cahaya iman dan ilmu yang bermanfaat, serta amalan shalih.
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.” (Muhammad : 11)
Jika Allah subhanahu wa ta’ala melindungimu dengan pemeliharaan, taufiq, serta petunjukNya didunia dan diakherat, maka kamu akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tiada celaka selamanya. Didunia Dia akan menolongmu dengan hidayah taufiq, serta berjalan diatas manhaj yang selamat. Diakherat Dia akan menolongmu dengan memasukkanmu kedalam surga-Nya dan kekal di dalamnya, dimana tiada rasa takut, sakit, celaka dan tua serta ketidakenakan. Ini merupakan pertolongn Allah subhanahu wa ta’ala kepada hambaNya yang beriman didunia dan diakherat.
Berkata Syaikh rahimahullah : “dan menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada.”
Bila Allah subhanahu wa ta’ala menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, maka ini adalah puncak yang dicari. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan barokah pada usia, rezeki, ilmu, amal, serta keturunanmu. Dimanapun kamu berada dan menghadap, barokah senantiasa menyertaimu, maka ini adalah kebaikan yang besar dan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur”
Ini berbeda dengan orang yang jika diberi mengingkari nikmat dan menolaknya. Sesungguhnya, mayoritas manusia jika diberi nikmat mereka mengkufuri, mengingkari dan memalingkan pada selain ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, sehingga hal itu menjadi sebab kesengsaraannya. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambahnya :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrohim : 7)
Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah keutamaan serta kebaikanNya kepada orang yang bersyukur, jika ingin bertambah kenikmatan, dan jika ingin hilang kenikmatanmu maka kufurilah.
Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan jika mendapat ujian bersabar”
Allah subhanahu wa ta’ala menguji hambaNya, menguji mereka dengan musibah, tipu daya, serta dengan musuh-musuh dari golongan orang-orang kafir dan munafiqin. Mereka membutuhkan kesabaran, tidak putus asa serta tidak putus harapan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tetap diatas agamanya dan tidak menjauh bersama fitnah, atau menerima fitnah. Bahkan mereka tetap diatas agamanya dan bersabar atas apa yang dijalani dari kesusahan-kesusahan didalamnya. Berbeda dengan mereka yang diuji mengeluh dan marah-marah serta putus asa dari Rahmat Allah ‘azza wa jalla, maka orang yang demikian akan ditambah dengan cobaan demi cobaan, musibah demi musibah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“sesungguhnya jika Allah subhanahu wa ta’ala mencintai suatu kaum, (maka Dia akan) menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”. “Dan manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya.”
Para Rasul, siddiqin, dan syuhada’ serta hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mu’min diuji, akan tetapi mereka bersabar. Adapun orang-orang munafiq, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentang mereka :
“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi” (Al Hajj : 11)
Yang dimaksud tepi artinya ujung.
“Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia didunia dan diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Hajj : 11)
Dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia dan mendapat pertolongan. Allah subhanahu wa ta’ala menggilirkannya diantara para hambaNya. Para sahabat –yang merupakan ummat yang paling mulia- apa yang terjadi pada mereka dari ujian dan cobaan? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Ali Imran : 140)
Maka, hendaknya seorang hamba menenangkan jiwanya. Jika dia diuji, sesungguhnya hal ini tidak khusus baginya. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala telah mendahului dengan hal tersebut. Hendaknya ia tenangkan jiwanya dan bersabar, serta menunggu jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan akhir yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.
Berkata Syaikh rahimahullah : “Dan jika berdosa meminta ampun”
Adapun orang yang jika berdosa tidak meminta ampun dan bertambah dosanya, maka celakalah dia –wal iyya’udzu billah-, akan tetapi seorang hamba yang beriman, setiap kali dia berbuat dosa maka dia akan segera bertaubat.
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali Imran : 135)
“Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera” (An Nisaa’ : 17)
Arti jahalah itu bukanlah orang yang tidak berilmu, karena orang yang jahil (bodoh) tidak disiksa. Akan tetapi jahalah disini adalah lawan dari hilm (santun). Maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dia adalah jahil, artinya kurang santunnya, kurang akalnya, dan kurang kemanusiaannya. Kadang-kadang ada orang yang alim (berilmu) akan tetapi jahil (bodoh) disisi yang lain, yaitu tidak memiliki kesantunan dan tidak benar dalam perkara tersebut.
“Kemudian mereka bertaubat dengan segera” artinya, setiap kali berbuat dosa mereka minta ampun. Tidak ada seorangpun yang maksum (terjaga) dari dosa, akan tetapi –alhamdulillah- Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu taubat. Maka jika seorang hamba berdosa wajib baginya untuk segera bertaubat. Jika dia tidak bertaubat meminta ampun, mka ini adalah tanda-tanda kesengsaraan, bahkan kadang-kadang ada yang putus asa dari Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya “Tidak ada taubat bagimu”
Tiga perkara tersebut diatas yakni, jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar dan jika berdosa meminta ampun merupakan tanda-tanda kebahagiaan. Barangsiapa yang mencocokinya dia akan mendapatkan kebahagiaan, dan barangsiapa yang terhalang darinya atau sebagiannya, maka dia akan sengsara (celaka).
Berkata Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
Ketahuilah! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbingmu untuk taat kepadaNya. Sesungguhnya al hanifiyyah millah ibrahim itu adalah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengikhlaskan agama untukNya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat : 56)
SYARAH :
“Ketahuilah! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbingmu”. Ini adalah do’a dari syaikh rahimahullah, demikianlah hendaknya seorang pengajar itu mendo’akan murid-muridnya.
Dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu artinya mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
“Sesungguhnya al hanifiyyah millah Ibrohim”
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (An Nahl : 23)
Al Hanifiyyah adalah agamanya al hanif yaitu Ibrahim ‘Alaihis salam. Sedangkan al hanif adalah menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan hatinya, amalan-amalannya, niat, serta tujuannya, semuanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, dan berpaling dari yang selainNya. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alahis salam
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Al Hajj : 78)
Dan millahnya Ibahim adalah kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala mengikhlaskan agama untukNya.
Ini adalah al Hanifiyyah. Syaikh rahimahullah tidak hanya berkata “Kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” saja, bahkan menyatakan, “Mengikhlaskan agama untukNya” yaitu jauhilah syirik, karena ibadah itu jika dicapuri kesyirikan, maka akan batal. Tidak akan menjadi ibadah, kecuali jika selamat dari syirik baik besar maupun kecil. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah : 5)
Hunafaa’ adalah bentuk jamak dari hanif yaitu ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan seluruh mahluk dengan ibadah ini, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” (Adz Dzariyat : 56)
Makna “menyembahku” adalah “mengesakanKu dalam ibadah”. Dan hikmah dari penciptaan mahluk adalah, bahwasanya mereka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan agama untukNya. Diantara mereka ada yang mengerjakannya, dan adapula yang tidak mengerjakannya, akan tetapi hikmah dari penciptaan mereka adalah ini. Sehingga orang yang beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala adalah menyelisihi hikmah penciptaan mahluk, menyelisihi perintah dan syariat.
Ibrahim ‘alaihissalam adalah bapaknya para Nabi yang datang setelahnya, maka seluruh (para nabi) berasal dari keturunannya. Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
“Dan Kami jadikan kenabian dan alKitab pada keturunannya.” (al ankabut : 27)
Mereka seluruhnya berasal dari bani Israel, anak cucu Ibrahim ‘alaihissalam, kecuali Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, beliau berasal dari keturunan Ismail ‘alaihissalam. Maka seluruh para Nabi berasal dari anak-anaknya Ibrahim’alaihissalam, sebagai penghormatan baginya dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya sebagai “Imam” bagi manusia yaitu “contoh” (bagi mereka). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
“sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia” (Al baqarah : 124), maknanya yaitu panutan.
“Sesungguhny Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan” (An Nahl : 120)
Yaitu imam yang diteladani, dengan hal itu pula allah subhanahu wa ta’ala perintahkan seluruh mahluk, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz Dzariyat : 56)
Maka Ibrahim ‘alaihissalam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana Nabi-Nabi selainnya. Seluruh Nabi mengejak manusia untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (An Nahl : 36)
Adapun syariat-syariat yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, halam dan haram, maka hal itu berbeda pada masing-masing ummat sesuai dengan berbedanya kebutuhan. Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan suatu syariat lalu menghapuskannya dengan syariat yang lain sampai datangnya syariat Islam. Kemudian syariat Islam itu menghapus seluruh syariat (sebelumnya), dan tetaplah syariat Islam itu sampai hari kiamat.
Sedangkan inti agamanya para nabi yakni tauhid, maka ini belum dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna “Ikhlas untuk Allah dengan Tauhid”. Adapun Syariat-syariat (lain) yang berbeda-beda dihapus, akan tetapi tauhid dan aqidah dari Adam ‘alaihissalam sampai Nabi yang terakhir, semuanya mengajak kepada tauhid dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah mentaatiNya pada setiap waktu dengan perkara yang diperintahkan dari syariat-syariat. Maka beramal dengan syariat yang menghapus adalah ibadah dan beramal dengan syariat yang telah dihapus bukanlah termasuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul wahhab) rahimahullah :
“Maka, jika kamu sudah mengetahui bahwa allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid”
SYARAH :
“(Maka jika kamu sudah mengetahui bahwa allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya)”
Yaitu jika kamu mengetahui dari ayat ini :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (Adz Dzariyat : 56)
Maka kamu termasuk manusia yang ada dalam ayat ini. Kamu mengetahui pula bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menciptakanmu dengan sia-sia atau untuk menciptakanmu untuk makan dan minum saja, serta hidup didunia bebas dan gembira, tidaklah demikian. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, hanya saja ditundukkan bagimu yang ada ini untuk membantumu dalam beribadah kepadaNya, karena engkau tidak akan mampu hidup kecuali dengannya. Kamu tidak akan sampai untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan hal-hal tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala menundukkannya bagimu agar engkau dapat beribadah kepadaNya, bukan agar kamu bergembira, bersukaria, bebas berbuat fasik dan cabul, serta makan dan minum sesukamu, karena ini adalah keadaan binatang. Adapun manusia, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka dengan tujuan yang besar dan hikmah yang agung, yaitu ibadah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezaki sedikitpun dari mereka.” (Adz Dzariyat : 56-57)
Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakanmu agar kamu mencari rezeki untuk-Nya, bekerja dan mengumpulkan harta untuk-Nya sebagaimana dikerjakan oleh sebagian manusia dengan sebagian lainnya, yang menjadikan pekerja untuk mengumpulkan kekayaan bagi mereka. Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh dengan itu, dan tidak membutuhkan alam semesta ini. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan” (Adz Dzariyat : 57)
Allah subhanahu wa ta’ala memberi makan dan tidak diberi makan, serta tidak butuh pada makanan. Ketidak butuhan Allah subhanahu wa ta’ala itu (sesuai) sesuai dengan Dzat-Nya. Tidaklah dia membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kufur, tidak akan berkurang kerajaan Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi kamulah yang butuh kepadaNya, yaitu butuh untuk beribadah kepada-Nya. Dan termasuk Rahmat-Nya adalah Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkanmu untuk beribadah kepadaNya demi kebaikanmu. Karena jika kamu mengibadahi-Nya, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Dengan sebab itulah engkau dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan akherat. Maka siapakah yang mendapat faedah dari ibadah? Yang mendapat faedah dari ibadah adalah hamba sendiri. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya Dia tidak butuh kepada mahluk-Nya.
Berkata syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah :
“Maka, ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah (bersuci).”
SYARAH :
Jika kamu telah mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka sesungguhnya ibadah itu tidak menjadi benar dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala kecuali jika terpenuhi dua syarat di dalamnya. Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak ada, maka batallah ibadahnya.
Syarat pertama : Menjadikan amalan tersebut ikhlas untuk wajah Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga tidak ada kesyirikan didalamnya. Jika dicampur dengan kesyirikan, maka batallah (amalan tersebut), sebagaimana halnya bersuci jika dicampur dengan hadats, maka akan batal. Demikian pula jika kamu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menyekutukanNya, maka batallah ibadahmu.
Syarat kedua : Mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ibadah apapun yang tidak datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka ibadah tersebut batal dan tertolak, karena termasuk bid’ah dan khurafat. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallah bersabda :
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami makaperbuatan itu tertolak”
Dalam riwayat yang lain disebutkan :
“Barangsiapa yang membuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami, maka perbuatan itu tertolak”
Maka ibadah itu harus sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan bukan dengan istihsanat (anggapan baik) manusia, niat, serta tujuan mereka. Selama ibadah tersebut tidak ada dalilnya dari syariat, maka hal itu adalah bid’ah dan tidak bermanfaat bagi pelakunya bahkan membahayakannya, karena merupakan kemaksiatan meskipun dia beranggapan dengan hal itu akan mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam ibadah harus ada dua syarat ini, yakni ikhlas dan mengikuti Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga jadilah ibadah tersebut benar dan bermanfaat bagi pelakunya. Jika kesyirikan masuk kedalamnya, maka batallah ibadah tersebut, dan jika ibadah itu telah menjadi bid’ah dimana tidak ada dalil atasnya, maka menjadi batal pila. Tanpa dua syarat ini, tidak ada faedahnya suatu ibadah, karena ibadah itu tidak diatas apa yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima, kecuali apa yang disyariatkan dalam kitab-Nya atau atas lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.
Tidak ada seorangpun dari mahluk Allah subhanahu wa ta’ala yang wajib kita ikuti kecuali rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Adapun selain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka dia diikuti dan ditaati jika mengikuti beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Jika menyelisihi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Ta’atilah Allah dan taatilah rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisaa’ : 59)
Ulil amri adalah para pemimpin dan para ulama. Jika mereka mentaati Allah subhanahu wa ta’ala maka wajib bagi kita mentaati dan mengikuti mereka. Adapun jika mereka menyelisihi perintah Allah subhanahu wa ta’ala, maka tidak boleh mentaati dan mengikuti penyimpangan mereka. Karena tidak ada seorangpun yang boleh ditaati secara mutlak dari mahluk yang ada ini kecuali Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan yang selain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka dia diikuti dan ditaati jika mentaati beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Inilah ibadah yang benar.
Berkata Syaikh (Muhammad bin abdil wahhab) rahimahullah :
“Jika kamu mengetahui bahwa syirik bila bercampur dengan ibadah akan merusaknya dan menghapus amalan, sehingga pelakunya termasuk orang yang kekal dalam neraka. Tahukah engkau bahwa yang paling penting bagimu adalah mengetahui hal tersebut. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membebaskanmu dari perangkap ini, yaitu syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tentangnya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an nisaa’ : 48)
Dan hal itu dengan mengetahui empat kaidah yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya”
SYARAH :
Selama engkau mengenal tauhid yaitu mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ibadah, maka wajib bagimu untuk mengetahui apa itu syirik. Karena seseorang yang tidak mengetahui suatu perkara, dia akan terjatuh padanya. Maka sudah seharusnya engkau mengetahui maca-macam kesyirikan dengan tujuan untuk menjauhinya, karena Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan hal itu dalam firman-Nya
“Sesungguhnya Allah tidak akanmengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (dari syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An Nisaa’ : 48)
Adapun bahaya kesyirikan tersebut adalah diharamkan bagi pelakunya untuk memasuki surga
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (Al Maidah : 72)
Diharamkan pula dia dari ampunan
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syrik.” (An Nisaa’ : 48)
Jika demikian halnya, maka hal ini adalah bahaya yang besar, yang wajib engkau ketahui sebelum bahaya lainnya. Karena syirik itu pila, telah sesat berbagai pemahaman dan akal-akal, sehingga kita perlu mengetahui apa itu syirik dari Al qur’an dan As Sunnah. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita dari sesuatu kecuali Dia menerangkannya, dan tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan sesuatu kecuali menjelaskannya kepada manusia. Maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengharamkan syirik dan meninggalkannya secara global, akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskannya dalam Al Qur’an yang mulia dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga menerangkannya dalam As Sunnah dengan keterangan yang lengkap. Apabila ingin mengetahui apa itu syirik, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sampai kita tahu syirik tersebut dan bukan kembali pada ucapannya si fulan (seseorang), akan datang (penjelasan) tentang ini.

Silakan download